Showing posts with label Marriage. Show all posts
Showing posts with label Marriage. Show all posts

Thursday, September 15, 2016

Tidak Mudah Menjadi Pria

Very touching, dengan profesi yg sama denganku.

===========================

Hampir sebulan ini, suami saya sibuk sekali. Biasanya kalau pulang kerja, dia pasti berburu game. Kalau weekend atau tanggal merah, juga pasti main game. Nah hampir sebulan ini gamenya membeku, tidak disentuh. 🤔

Suami saya seorang programmer, spesialis di bidang mobile aplikasi. Tapi dia sering rendah hati menyebut dirinya sebagai tukang ketik. Tidak seperti istrinya yang agent asuransi namun sering tinggi hati menyebut dirinya sebagai malaikat tanpa sayap, bahahahahaha... 😂

Dari dulu sampai sekarang, saya tidak pernah paham tentang pekerjaannya. Jika kupandang laptopnya, rasanya semua yang terpampang di layar sama semua. Berisi kode-kode ala programmer. Terlalu teknikal sekali buat saya yang terbiasa bekerja di dunia marketing. Maka dari itu saya bisa minta pendapatnya jika terkait pekerjaan saya, sedangkan dia tidak bisa minta pendapat saya jika terkait pekerjaannya. 😅

Hari ini libur nasional Idul Adha dan suami saya kembali berkutat dengan kode-kode di laptopnya. Saya menyetrika pakaian sambil sesekali melihat padanya yang begitu serius di depan laptop. Saya jadi berfikir bahwa suami saya ini hampir tidak pernah mengeluh sesibuk apapun beban pekerjaan yang dia tangani. Beda sekali dengan saya yang gemar berceloteh.😁

Saya jadi ingat beberapa hari yang lalu saya posting foto setrikaan yang menggunung dan ngedumel soal itu. Suami saya memang jarang sekali membantu pekerjaan rumah tangga, tapi saya bersyukur bahwa dia hampir tidak pernah menegur bahkan marah jika rumah dalam keadaan kotor atau berantakan. Mungkin dia tidak ingin membuat saya bertambah pusing. Hal simple seperti itu sudah cukup membuat hati saya nyaman.😌

Saya tahu banyak sekali wanita yang sering menganggap dirinya menanggung beban berat dalam hidup entah itu ibu rumah tangga atau wanita menikah yang juga berkarir. Sesekali saya juga merasakan hal yang sama. Rasanya ingin teriak "Heiiii...tidak mudah menjadi wanita!" 🙅🏻

Tapi saya sadar menjadi pria pun tidak mudah. Sebagai kepala keluarga mereka memikul beban tanggungjawab financial yang semakin hari semakin berat. Dunia kerja begitu kompleks. Persaingan semakin ketat. Mereka perlu memutar otak dan bekerja sangat giat untuk dapat memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga tercinta. 👨‍👩‍👧‍👦

Saya punya beberapa kenalan teman pria yang terpaksa harus bekerja di luar kota bahkan di luar negeri demi istri dan si buah hati. Saya yakin mereka sebenarnya merasakan kesedihan tidak dapat berkumpul setiap waktu dengan keluarga. Apalagi jika hari ulang tahun atau hari raya tidak dapat pulang. Merindukan masakan istri, merindukan tangis dan tawa si kecil, juga merindukan suasana di negeri sendiri. Kalau boleh mengeluh, saya yakin mereka juga ingin sekali melakukannya. 😫

Tidak dapat dipungkiri bahwa wanita kerap rempong dengan hal remeh temeh. Suami lembur atau telat pulang, diinterogasi! Suami terima telp dari partner atau client perempuan, dicurigai! Suami sibuk kerja dan tidak bisa ajak liburan di long weekend, dingambeki! Suami lelah dan tidak bisa bantu pekerjaan rumah, dimarahi! Dsb...dsb...dsb...😒

Dengan memahami bahwa menjadi pria ternyata juga tidak mudah, saya sangat berusaha untuk tidak membuat suami saya bertambah pusing dengan hal-hal sepele. Kalau saya tidak bisa membantu meringankan pekerjaannya, maka saya berusaha untuk tidak mempersulitnya. Sesekali saya juga menghiburnya dengan jokes. Senang dapat melihatnya tiba-tiba tersenyum ketika dahinya berkerut di depan laptop. 😊

No, I am not a perfect wife and i don't want to be perfect. I just want to be my self then I will be happy. I was learning, I am learning and I will learn to be a better woman. 🙋🏻

Cheers
Cici Shelly
Sharing is Good



Sumber

Thursday, July 30, 2015

Married #9 - Prewed

Terus pada tanggal 1 Mei, hari jumat, kami rencanakan untuk menggunakan liburan itu untuk prewed. Kami prewed di daerah barat surabaya, ga pake luar kota, soalnya bakal ribet dan persiapannya bakal jauh lebih pagi. Jadwalnya sama salon ada jam 6 pagi, terus ini kan aku dapet salon di surabaya barat juga, sedangkan aku dan pasangan ada di sby selatan, jadi aku harus berangkat dari lokasiku kira2 jam 5.30 pagi. Susah banget tuh buat kita2 yg bangun tidur biasa e jam 8 pagi heheheh.

Sebelumnya, sebenernya kita ada mau fitting baju yang cewek minggu sebelumnya pas hari minggu, tapi pas di telp, ternyata bajunya lagi keluar, lagi di laundry, dan bajunya datang hari rabu, tapi kita kan ga bisa, karena kerja, jadilah kita memutuskan untuk fitting pada tanggal 1 Mei itu, langsung dibenerin pada saat itu juga.

Akhirnya tibalah hari H, kita bangun kesiangan, baru bangun jam 5.15. Padahal rencana bangun jam 4.30 supaya bisa siap2 lebih teliti lagi. Sebenernya sih kemarennya sudah siap lancar teliti, tapi sapa tau. Setelah kita bangun terus siap2, ga lupa minum cocoa anget biar ga masuk angin, berangkatlah kita ke salon jam 5.45. Sampai di salon sudah jam 6.15an, tak pikir sudah hectic di salon, ternyata ya santai2 aja tuh hahaha. Si calon langsung fitting dan setelah fitting, langsung di bentuk model rambutnya. Bentuk2 model rambut ga terlalu lama kalau aku bilang, dan waktu bentuk model rambut, sempet sih ditanyain, baju lainnya pake baju warna apa, terus dipinjemin head piece utk warna tsb. Wah seneng pol, padahal awal e kita mau beli head piece sendiri loh! Terus setelah bagian rambut, kita pergi ke bagian make up buat dimake up orang nya.

Thursday, May 14, 2015

Married #8 - Berkas N1, N2, N3, N4

Kemarin tanggal 4 april aku baru pulang kampung, rencananya sih mau nyari berkas N1, N2, N3, N4. Aku pikir mesti ke RT dulu buat tanya2 gimana dapetnya. Jadi kemaren sabtu (aku pulang kampung sabtu sama minggu aja) aku dari pagi nyari ke pak RT rumahku, buat tanya2 gimana sih cara dapetin berkas2 tersebut? Tapi pas hari sabtu itu dari pagi sampe sore aku cari, rumahnya selalu tertutup, jadi ga ada orang di sana. Jadi pada akhirnya, aku putuskan untuk take a gambling utk kembali lagi hari minggu. Nah, pas hari minggu, di rumahnya terbuka, akhirnya aku masuk untuk mencari pak RT, dan ternyata dia lagi keluar dan diminta menunggu. Nah setelah 2-3 menit menunggu, akhirnya pak RT datang dan kami berbicara, bertanya bagaimana cara mendapatkan, tapi ternyata pak RT juga tidak tahu.

Hopeless, tapi ga mau waktu pulang kampung terbuang sia2, akhirnya aku searching di internet dan aku mencoba untuk mengeprint dan aku isi, terus setelah itu aku titipkan ke papa buat dikasih ke pak lurah. Terus balikklah aku ke surabaya, setelah beberapa minggu, akhirnya aku ditelpon papaku yg sudah ada di kantor kelurahan, dia minta ktp dan kk calon mempelaiku, lha aku ga ngasih itu ke ortuku. Jadi ya sudahlah, kudu pending, tunggu nanti pas balik madiun lagi baru bawa fotokopi KK sama fotokopi KTP calon.

Akhirnya sebulan kemudian aku balik madiun dan bawa fotokopi surat KK dan fotokopi KTP dan kuserahkan ke papaku, soalnya balik madiun hari sabtu, jadi pak lurahnya libur.

Setelah itu aku balik lagi ke sby, terus beberapa hari kemudian di telpon lagi sama papaku bahwa surat nya sudah jadi semua. Hore!!! Cuman tinggal nunggu waktu buat ngambil ae.

Thursday, April 2, 2015

Married #7 - Vendor Undangan

Halo, sudah lama ga nulis tentang married, banyak hal yang terjadi, banyak hal yg kelupaan utk ditulis. Skrg yang sudah ada di depan mata dulu aja yg tak tulis, nanti yg inget tak tulis belakangan.

Untuk undangan, mestinya aku dapet dari EO ku, dengan harga 10rb per biji dan dengan jumlah 175 biji saja. Karena kita juga ga pengen diboongin, jadi kita coba deh cari2 undangan di tempat lain, contoh: PGS. Waktu cari2, kita juga sempet dikasih tau temen kalau ada 1 vendor undangan yang bagus, ada di daerah ngagel, dekatnya bengkel yamaha, disitu katanya dapet harga murah, soalnya semua orang biasanya ngambilnya disitu. Namanya toko kertas Trikarta, ada website nya kalau mau lihat, http://blankoundanganku.com/ lebih enak kalau datang langsung ke sana, orang yang menjual juga baek, mau tanya2 boleh, dihitungkan juga kalau mau desain berbeda.

Setelah aku minta daftar undangan dari papaku, ternyata papaku ngundang banyak banget, jadi ada adjustment deh, untuk resto, kita jadinya ambil yg 40 meja, dan untuk undangan kita bakal ambil 250 undangan. Nah balik lagi ke vendor undangan, kita kan cari2 puter2 nyari vendor undangan yang paling oke kan gan, kita juga ga mau terpatok sama vendor undangan yang sudah di sediain sama EO, walaupun emang cape sih gan, tapi it worth to fight for. Kita bisa tau banyak hal tentang undangan.

Oke, lanjut, akhirnya kita pesan di Trikarta, di Trikarta kita dapet undangan lempitan, dengan ukuran A5 (15cm * 21cm) kita dapet dengan harga 10500. Ya oke lah, akhirnya kita pesan sejumlah 250 lembar undangan dengan 1 bahasa chinesse dan 1 bahasa inggris.

Deg-degan nih soalnya mau ngecek gimana hasilnya

Sunday, February 1, 2015

31 1 2015

Halo, hari ini tanggal 31 januari yang berarti adalah hari anniversary hubungan pacaran aku sama pacarku. Seneng sih, sudah bertahan 2 tahun, tadi pagi kan aku di bbm pacarku (aku perjalanan ke jogjakarta, ada temen deket e papaku, tapi dianggep sodara sendiri mantu) kalau di kasi congratulation sama facebook. What? Itu mah auto tiap ada anniversary semua orang juga pasti di kasi congratulation. Dan pacarku bilang "untung ae ga ada yg nylametin". Ya aku juga ada sisi senang ada sisi miris, benerkah ga ada 1 pun yang kasih selamat? Tapi sudahlah, toh cuman anniversary. Yang terpenting adalah kita sudah lewati 2 taun bersama dan still survive melewati segala cobaan.

Oiya btw tadi pagi jam 12 lebih aku bbm ke pacarku gini (sok romantis) dan hasilnya cuman di bales 'ciee ciee ciee':
Dear my lovely girlfriend, sudah 2 tun kita berstatus pacar, dan sudah 3 taun kita sejak kitmulai utk membangun hubungan.
No regret I can say to you.
2 taun kita ketawa bareng, kita nangis bareng.
Banyak masalah yang kita hadapi, entah dari kita sendiri ataupun dr luar.
And I am gd we can go through that together.
AndI am sure there will be more challenging event ahead on our future.
But I am sure too that we can pass that together.
Can't wait to our togetherness after we marriage. (kita mau nikah tanggal 8 agustus 2015)
We create our own kingdom.
We create our own family.
Ga ada yang marah2in kita, ga ada yang ngatur2 kita, ga ada yang ngatur2 kita.
Pray to God that he would always keep an eyes to us.
Amen.

With love, ur love

Nb: Sebener e aku mau nyiapno surprise present, tapi kayak e ga isa, ga ada waktu.

Wednesday, December 24, 2014

Married #6 - Vendor Restaurant #2

SHOCK!!

Barusan dikabarin siang ini (tgl 22 des 2014) bahwa vendor restoran tempat kita married bakal tutup pada taun 2015 dan maret adalah bulan terakhir beroperasi. Wah kenapa ga dibilang dari dulu2, kenapa baru sekarang dibilang. Langsung panik, perasaan campur aduk. Kecewa pol, banyak yang dikorbankan cuman untuk nunggu kepastian dari restoran kita ini. Korban waktu, karena kita ga bisa balik lagi ke 4 bulan yg lalu. Korban uang, karena deal harga sekarang beda sama deal harga 4 bulan yang lalu. Takut juga, takut kalau ga dapat tempat untuk resepsi. Karena tanggal yang kita mau itu tanggal bagus. Dan tentunya banyak orang yang mau married tanggal segitu juga.

Tapi ya apa mau dikata, dari sisiku sih banyak kerugian yang tercapai. Tapi aku juga ga tau bagaimana dari sisi mereka. Aku jg ga tau apa mereka perlu ber bulan2 untuk memutuskan untuk tutup, keputusan yang susah. Dan tentu saja banyak orang yang keliatan langsung di depan mata kalau pekerjaan mereka akan hilang beberapa bulan lagi.

Terus dari EO, pihak EO kasih kita beberapa option dan kita ada 1 resto yang menurut kita oke, inisial nya "M", ada di  jalan diponegoro. Terus kita stalk resto ini, kita cari2 info review dari resto ini, gimana hasilnya, apa mengecewakan ato ga, dan ternyata overall orang2 bilang bagus, jadi kita lebih mantap (btw, yg "M" ini harganya lebih miring dari resto awal yang kita pilih).

Saturday, November 22, 2014

Married #5 - Vendor Restaurant #1

Hi, beberapa saat yg lalu aku sempet posting tentang vendor restoran yang bikin kami dag dig dug duer. Soalnya harga ga keluar2 dan kita juga was2 kalo harga naek jauh lebih besar dari perkiraan. Dalam waktu penantian ini, tiba2 mamanya pacar ane bilang ke kita kalau temennya dia, punya anak, dan anaknya itu jadi marketingnya resto yg kita mau. Dan ternyata lagi, si marketing resto yang kita mau itu tau adeknya pacar ane. Nah lalu kita mengambil keputusan untuk menelpon langsung ke orang yang bersangkutan tersebut. Dan ternyata, sama saja, dia bilang kalo harga keluar nanti bulan desember.

Kecewa juga sih, tapi kami tau kalau pasti nanti ada sesuatu yang menanti kami.

Married #4 - Menentukan Salon

Halo gan, setelah kita sepakat untuk menggunakan resto, kita fokus ke vendor lain yang ga kalah vital dengan resto, yaitu salon untuk pengantin. Ya pasti vital soalnya kan yang pengantinnya diliat semua orang dan kalo jelek ya bisa bikin nyesel seumur hidup, kan cuman sehari tok nikahnya. Kita ngomong2 lagi sama EO tentang masalah salon, dan EO ngasi 3 alternatif. Karena pacarku pernah bantuin sodaranya yg nikah, jadi dia tau beberapa salon dan salah satu salon yang direkomendasikan oleh EO adalah salon yang dipakai kakaknya pacarku, dan pelayanannya kurang memuaskan karena sangat ramai. Kadang kalo mau ketemu ngomongin tentang salon, harus antri 3-4 jam baru bisa ketemu, itupun hari biasa.

Jadi kami punya 2 alternatif, yang 1, salonnya bagus banget, dan seperti resto kami, kami tidak memasukkan salon ini di listing pernikahan kami karena kami tau kalau harga untuk salon tersebut sangat mahal. Dan 1nya kurang terkenal (bagi kami, apapun yang tidak kami tau adalah tidak terkenal hahahaha), jadi kami lebih fokus ke salon yang mahal (EO setuju dengan budget kami yang terbatas). Lalu kami janjian untuk menuju ke lokasi salon yang mahal itu untuk lihat2, maunya sih ngomong2 tentang harga dan lain sebagainya. Dan hari dimana kami harus pergi ke salon pun tiba, kami dan EO janjian ketemu di dekat salon, lalu kami masuk bersama2. Setelah masuk, kami sangat kaget kalau pacarku disuruh nyoba2 baju.

Setelah coba2 ganti baju, waktunya nego harga dan si EO ngomong2 sama yang punya salon utk nego2, supaya dengan harga yang terbatas itu, bisa dapat banyak fitur, seperti make up pengapit bisa diganti dengan make up saudara, kosasi, retouch bisa di hotel dan lain sebagainya. Setelah si EO ngomong2 sama yang punya salon, si EO datang ke kita dan ngomong kalo yang punya susah buat dinego, padahal sudah sering EO ndatengin konsumen. Terus katanya soalnya ini yang punya salon lagi mbangun rumah di samping salon (salonnya ini ada di tempat elite gan dan salonnya tempatnya besar, mbangun 2 kavling samping kavling yang sekarang)

Oke, setelah kecewa karena tidak bisa dinego, lalu kita mencoba untuk pergi ke alternatif yang 1nya, lokasinya lumayan jauh karena dari barat kita menuju ke tengah-utara. Setelah menuju ke lokasi alternatif, kita tau kalau ini bukan yang kita cari, karena banyak yang tidak cocok ukurannya. Jadi kami menetapkan hati untuk memilih yang di tempat tadi yg bagus banget.

Thursday, October 16, 2014

Aku Terpaksa Menikahinya

Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki:
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orang tuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orang tuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada di mana?” tanya suamiku cepat, khawatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali ku telepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan Maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orang tuaku dan orang tuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak di mataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, air mataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam masjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak peduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Ia pun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku shalat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku shalat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Shalatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah dari mana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu. Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. Maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, kesatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat di manapun kalian berada, ayah akan di sana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orang tuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selama-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia dua puluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Sumber: http://www.womags.com/2014/10/aku-terpaksa-menikahinya-kisah-inspirasi-untuk-para-istri-dan-suami/

Friday, October 3, 2014

Married #3 - Menentukan Resto

Hi, after we choose our EO (Event Organizer) for our wedding, we go hunting restraurant to celebrate our one day in whole life. Sebenernya sih kita sudah ada pandangan mau ada di resto mana, seperti cerita Married #2 - Menentukan Vendor, kita sebenernya sudah ada data resto dan kita sudah ada pandangan mau dimana. Karena EO nya menawarkan bantuan bakal press harga seminimal mungkin, jadi ya kita berangkatlah bersama dengan EO kita ke resto yang kita mau.

Waktu ke resto yang kita mau itu, ngomong2, sebenernya kita dikasi tau sama EO kalo di resto itu sebenernya kurang "greget" kalo dibuat pesta pernikahan. "Bakal terlihat biasa saja" katanya, dan tempat parkirnya relatif sempit untuk resto 4 lantai. Kami juga mikir loh gimana nanti jadinya kalau di tanggal 8 agustus, itu kan tanggal bagus, kalau semua lantai di-book, terus para tamu parkirnya gimana. Dan kita sempet tanya2 kalau ada parkir VIP ga, untuk brp mobil jg, ternyata parkir VIP cuman 2 (orang tua mempelai) + 1 (mobil mempelai) dan kami kecewa.

Sambil ngomong2, sambil kita dikasi daftar tempat makan yang oke dari pihak EO, dan kami memang milih untuk tempat makan yang ada di tengah kota aja, biar ga terlalu jauh dari tiap lokasi, maksudnya dari timur ke tengah kan ga jauh, dari selatan ke tengah kan juga ga jauh. Terus dapet 1 resto, lokasi nya di tengah kota, ya kurang lebih deket sama resto pertama, tapi kalo resto yang ini, emang ga kami filter karena sudah keliatan kalo pasti mahal. Waktu dikasi tau ya agak galau juga soalnya mahal, terus kami kasi dah EO buat nyari harga dulu.

Setelah seminggu, kami diajak buat ke tempat yang di refer EO. Aku pernah si dateng ke tempat itu dan aku suka, tapi mahalnya itu boo, jadi ga dimasukin ke daftar kami. Singkat cerita, kami sudah ada di lokasi dan kami di briefing (dikasi tau, kalo mempelai masuk lewat mana, daftar tamu di mana, panggung kayak apa, kurangnya apa, dan lain2) dan dikasi daftar harga. Terus kami kaget kalo harganya resto ini masi dalam budget kami, wow! Tapi ada kabar buruk gan, si resto ga mau iket harga sampai tahun depan (waktu kami cari resto ini kan masih juli, jadi 1 tahun lebih 1 bulan dari tanggal nikah), mereka mau ngiket sampe bulan maret, jadi kira2 9 bulan kedepan la mereka maunya.

Kita dah pada bingung, gmn ini, kasih DP dulu ato ga, kalo dikasi DP dulu, mereka jadi seenaknya aja ato ga ngasih harga. Tapi kalo ga dikasi DP, nanti diambil orang laen gimana. Banyak la yang ada di pikiran kami waktu itu (dan sampe skrg, belum ada kepastian harga). Terus setelah banyak diskusi sama adiknya pasangan sama EO juga, akhirnya ga di DP dulu supaya mereka ga seenaknya sendiri buat pilih harga.

Married #2 - Menentukan Vendor

Halo gan, jadi setelah dapat tanggal nikah, kita kan langsung bingung nyari vendor. Kita sempet pergi ke pameran2, liat2 pameran, ngambilin brosur, ngomong2 ama vendor, bikin excel untuk "mempermudah". Jadi excelnya tu aku bikin kayak pivot, jadi row header di kiri, itu berisi nama2 vendor, terus column atas, itu berisi ttg kebutuhan pernikahan. Contohnya yg column atas itu kyk vendor salon, kebutuhannya ada kyk make up pengantin, make up orang tua, baju orang tua, make up pengapit, aksesoris. Jadi jika untuk vendor A memiliki fitur make up pengantin, make up orang tua, maka untuk baris A, dengan make up pengantin dikasi tanda "OK". Gambarnya seperti ini gan:

Dengan excel itu sebenarnya kita kumpulkan data2 yang ada sampai kita bisa me-match-kan vendor2 dan bisa menjadi informasi yang berguna daripada kita secara manual match lewat ingatan2 kita. Misal kaya di salon A, dapat baju pengantin, make up pengantin, baju orang tua, make up orang tua. Sedangkan di salon B, dapat semua di salon A dengan tambahan kosasi dapat harga lebih mahal 500rb. Akan tetapi dengan EO Z, kita sudah dapat kosasi, jadi ini bisa menjadi informasi berharga sehingga tidak ada double feature ataupun ada yang miss.

Ya setelah kita isi data di excel tersebut, sambil kita tanya2 sama adiknya pasangan ane, kebetulan adiknya pasangan ane itu ada pengalaman di bidang EO, sering jadi EO, jadi jg ada kenalan2 dan isa dijadikan tempat "curhat". Waktu terus berlalu dan ada pameran wedding lagi di Galaxy Mall, EO tempat adiknya pasangan ane buka booth dan kami disuruh untuk ngomong2, tanya2. Maka jadilah kami pergi ke Galaxy Mall untuk liat pameran (parkir kendaraan ga di tempatnya Galaxy Mall, tapi di rumahnya saudaranya pasangan ane, dia punya saudara yang tinggal di daerah sana). Waktu liat, kami jg di prospek, dan kami ga bisa menahan kuasa, kami memilih untuk mengambil paketan komplit langsung deh.

Dengan pakai paketan, kami hitung harganya kira2 sama ama yang sudah kami hitung, sekitar 80jt an (jaman kami sekarang di Surabaya nikah 80jt tu masih agak murah). Ya dengan harga yang sama, semua kebutuhan kami sudah terpenuhi, ya kami langsung OK aja. Terus pada malem itu kami langsung DP pertama 1.5jt. Nah, setelah DP, kita kan dapet undian, ada hadiahnya. Tapi karena EO ini kenal sama adiknya pacar saya, jadi kami langsung dikasi hadiah "yg levelnya agak tinggi" bantal tanpa milih. Sebenernya kalo kita undian langsung itu paling cuman dapet notes, ato apalah, murah2, tapi ni dapet bantal. Lumayan la pikirku.

Terus setelah pulang, kan ambil kendaraan di rumah sodaranya pacar, sekalian ninggalin bantal di situ, karena kita kadang2 juga nginep di situ (emaknya pacar ada di situ, jadi nemeni). Setelah pulang, kita bisa tidur agak tenang

Thursday, October 2, 2014

Married #1 - Tanggal Nikah

Halo gan, long time no see. I have a happy story to tell you. I am gonna married next year! As you know di beberapa postinganku sebelumnya aku sempat mention kalo aku udah ada pacar, dan kami setuju untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi lagi, yaitu jenjang pernikahan, dan membangun keluarga kami sendiri. I'm pretty sure I will spend all my time with her.

Tapi gan, sebenernya tu kita sudah ngomongin tentang pernikahan ini sudah lumayan lama sih gan. Kira2 maret 2014, skrg oktober 2014. Yah, emang sudah jarang ngeblog lg, dan ini mao mulai dokumentasi lg ttg apa yg terjadi dalam hidupku lg, biar besok kalo sudah tua isa liat2 lg ama senyum2 sendiri ahahahahah.

Oke, jadi ini mau share ttg persiapan utk married selama maret beberapa bulan yg lalu sampe oktober skrg ini. Karena panjang, jadi mgkn bakal dibagi jadi beberapa post, tp kalo bisa tetep 1 post aja deh.

Pertama, bulan maret aku sama pasangan sudah ngomong2 ttg rencana kedepan, mau gimana, mau kapan marriednya. Omongan tentang mau lanjut ato ga sudah diomongi sebelum2nya. Jadi kita sama2 mikir mau married 2015, terus akhirnya aku ngomong sama ortu sendiri, si pasangan ngomong sama ortu nya dia. Karena masih taun depan, jadi santai2 aja mereka. Kita sih ga ada persiapan buat nyari tanggal dan sebagainya, soalnya ortu ku bilang kalo bakal di cariin tanggal sama kenalan dari papa. Ya udah, kita tunggu hasil dari papa aja.

Beberapa bulan berlalu, dan akhirnya pada bulan juni, ga ada kabar tanggal untuk married dari papa mama, jadi kita berinisiatif untuk mencari sendiri. Kebetulan sepupunya pasanganku menikah dan dapet orang yg papanya bisa nyari tanggal untuk married, jadi kita minta tolong mereka. Tapi karena masih repot after marriage, jadi permintaan tolong kita masih belum bisa dikabulkan.

Terus setelah beberapa minggu, kita dapet tanggalnya gan. Dan tanggalnya bener2 bagus, tanggal yg aku suka dari dulu. Angka 8, kita dapet tanggal 8 bulan 8 taun 2014, hari sabtu. Ga nyangka banget kan, dan karena dapet tanggal bagus, kita langsung bingung untuk mencari vendor2 untuk pernikahan kita, karena pasti banyak orang yg bakal married tanggal itu.