Wednesday, December 31, 2014

Trip to Bandung - Day 1 #1

Hi, I want to make a documentation about my trip to Bandung yesterday - today (15 Nov 2014 - 16 Nov 2014). Trip ini bukan trip pribadi loh, ini trip outing yang diadakan oleh kantorku yang setelah 10 tahun berdiri sampai sekarang ga pernah ada outing sama sekali, hahaha.

Pertama tama, aku mau cerita tentang persiapan outing ini, outing ini di panitia oleh sistem admin dari kantorku. Waktu persiapan, aku dapet tugas buat nyari nomor telepon orang2 yang ikut outing, terus kita juga dapet jadwal outingnya bakal gimana. Waktu pertama kali baca, aku dalam hati sempet meragukan ini outing bakal fun. Soalnya jadwalnya cuman berangkat ke bandung untuk hari pertama, terus ke tempat makan, terus ke hotel, free sampe sore, terus makan, terus free. Dan untuk hari kedua, trekking, sarapan, siap2 check out, terus lunch, terus pulang. Gimana ga ragu kalau bakal fun coba kalo cuman gitu jadwalnya.

Oke, lanjut pada hari pertama. Jujur ya, aku paling takut kalo harus pergi jauh dan berangkat pagi, soalnya aku punya masalah pencernaan, buang air besar ga bisa ditahan. Seringkali ga ada apa2, terus waktu ngapain gt, langsung bergejolak dan langsung mau keluar. Ga enak deh gan kalo jadi aku untuk masalah pencernaan ini. Soalnya selalu secara tiba2 langsung mo keluar. Jadi kita janjian utk berangkat jam 5 dan kumpul di kantor. Dan karena kelemahanku ini, aku memutuskan untuk bangun lebih pagi, sekitar jam 4, dengan 2 alaram: jam setengah 4 sama jam 4.

Waktu jumat malam, aku ga isa tidur. Soalnya excited bgt sama trip kali ini, pengen tau kita mau ngapain aja, ada apa aja, apa yg isa di liat, dan lain2. Terus bangun jam setengah 4, bangunin yg laen, terus ke wc, berusaha mengatasi masalah perut. Setelah jam 5, kita berangkat bareng ke kantor. Setelah sampe di halaman kantor, aku masih harus sms ke anak2 kantor, nanyain udah berangkat ato belom, mo berangkat jam brp, biar ga telat, soalnya kalo telat 5 menit aja, katanya kita bisa berhenti di tengah jalan 1 jam, kalo 10 menit, berarti kita harus berkorban 2 jam di jalan. Ngeri juga yah.

Waktu pun berlalu dan kita sudah ngumpul semua kecuali 1 orang dan 1 orang ini sebenernya awalnya dia nggak ikut, tapi pas jumat malam akhirnya dia memutskan utk ikut. Jadi tak ada seorangpun yang tau kecuali PIC. Jadi kita semua pada kaget ada 1 orang lagi yg mo ikut dan pas itu jam sudah menunjukkan jam 6, jadi kita memutuskan untuk naek ke bus dulu, terus sementara PIC nya nungguin di halaman kantor sampai orang tersebut sampai dan dibawa utk ke tempat bus.

Sementara yang lain naek bus, kami nyari tempat duduk masing2, aku dapat tempat duduk nomor 2 dari belakang. Busnya bagus, besar, tempat duduknya juga lapang, juga ada pegangan tangannya, kayak tempat duduk kereta kelas eksekutif. Ada kamar mandi di belakang yang di sekat dengan pintu geser supaya bau kamar mandi tidak keluar ke tempt duduk penumpang. Oke, cukup sudah untuk deskripsi bus, sekarang lanjut lagi ke cerita yang tadi. Terus ini skrg sudah jam 6.20 pagi, terlambat 20 menit dimana setiap 5 menit berakibat macet 1 jam di tengah jalan ke bandung, yang berarti nanti bakal kena macet 4 jam di tengah jalan. Nah, setelah penantian yang panjang dan bikin deg2an, akhirnya datang juga si 1 orang tersebut and finally we are going to Bandung. yey!

There is no much I can tell what happen on the way to Bandung, there is just few moment when people are chat theirself, and my boss share the bread so we won't starving. Lalu akhirnya kami sampai di Bandung, dengan tujuan utama adalah tempat makan Lawangwangi Creative Space. Waktu kita OTW (On The Way) ke Lawangwangi, ternyata bus kita tidak bisa masuk ke jalannya Lawangwangi karena terlalu besar, jadi kita mau ga mau sewa 2 biji angkotan untuk menampung 20an orang kelaparan, angkutannya dapat 450 untuk 2 angkot. Itupun setelah penawaran yang sengit (untung dipihak kita ada orang yg bisa bahasa sunda). Lawangwangi Creative Space adalah tempat kumpulan dari art yang menyediakan makanan berkelas restoran dan ada live musicnya.



Tempatnya bagus, nyaman, ngambil banyak foto di sini, tapi sayangnya pas mendung, jadi mempengaruhi hasil sama yg difoto ada orangnya, jadi ga enak di posting heheheh. Banyak pilihan makanan, tapi aku milih spaghetti bolognese aja.

Untuk makanan, menurutku sih kurang dari segi rasa, aku sempet incip2 makanan meja tetangga dan overall semua makannya juga ga terlalu enak menurutku.

Setelah kita foto2 di Lawangwangi ini, kita lanjut perjalanan menuju ke hotel, seperti yang sudah aku bilang di awal kalo jadwalnya cuman makan-hotel-makan-hotel-makan dan begitu seterusnya hahaha. Oke, lanjut lagi ceritanya, setelah keluar dari Lawangwangi, kita harus naek angkot dulu ke tempat bus tadi, dan setelah sampai di bus, kita duduk di tempat kita masing2 dan perjalanan ke hotel dimulai dan aku pun terlelap. Saat bangun tidur, bis kita sudah berhenti (sebenernya sih kebangun karena bis nya sudah ga jalan lagi, canggih ya badanku ini). Lalu kita masuk ke lobby dan menunggu PIC (person in charge) nya me-check-in kan kita semua. Setelah sekitar setengah jam menunggu, kami dikasih kunci kamar 1 per 1. 1 kamar hotel bisa dipakai untuk 2 orang dan ada fasilitas extra bed. Jadi ada diantara kami yang dapat 1 kamar 2 orang dan ada yang 1 kamar 3 orang.

Wednesday, December 24, 2014

Christmas Night But Didn't Feel Anything About Christmas

Sekarang tgl 24 Des, malam natal, tapi sampai detik ini, jam 7 malem, aku ga merasakan bau2 natal, entah di hatiku, entah di daerah sekitar. Di gedung tempat kerja (perusahaanku sewa apartment utk kantor, tapi apartmentnya berupa apartel, jadi apartment tapi ada hotelnya) di lobby untuk hotel katanya sudah mulai dihiasi bertema natal, tapi aku belom sempat untuk liat2 ke sana. Kondisi kantorku ini aku di kantor cabang surabaya dan berpusat di jakarta, dan kita berkomunikasi via skype. Entah di sana bagaimana suasananya, tapi kelihatannya mereka sangat antusias dalam natal ini, tadi pagi, pada bilang "selamat natal". Sampe waktu mau pulang pun ada yg sempet bilang lagi.

Married #6 - Vendor Restaurant #2

SHOCK!!

Barusan dikabarin siang ini (tgl 22 des 2014) bahwa vendor restoran tempat kita married bakal tutup pada taun 2015 dan maret adalah bulan terakhir beroperasi. Wah kenapa ga dibilang dari dulu2, kenapa baru sekarang dibilang. Langsung panik, perasaan campur aduk. Kecewa pol, banyak yang dikorbankan cuman untuk nunggu kepastian dari restoran kita ini. Korban waktu, karena kita ga bisa balik lagi ke 4 bulan yg lalu. Korban uang, karena deal harga sekarang beda sama deal harga 4 bulan yang lalu. Takut juga, takut kalau ga dapat tempat untuk resepsi. Karena tanggal yang kita mau itu tanggal bagus. Dan tentunya banyak orang yang mau married tanggal segitu juga.

Tapi ya apa mau dikata, dari sisiku sih banyak kerugian yang tercapai. Tapi aku juga ga tau bagaimana dari sisi mereka. Aku jg ga tau apa mereka perlu ber bulan2 untuk memutuskan untuk tutup, keputusan yang susah. Dan tentu saja banyak orang yang keliatan langsung di depan mata kalau pekerjaan mereka akan hilang beberapa bulan lagi.

Terus dari EO, pihak EO kasih kita beberapa option dan kita ada 1 resto yang menurut kita oke, inisial nya "M", ada di  jalan diponegoro. Terus kita stalk resto ini, kita cari2 info review dari resto ini, gimana hasilnya, apa mengecewakan ato ga, dan ternyata overall orang2 bilang bagus, jadi kita lebih mantap (btw, yg "M" ini harganya lebih miring dari resto awal yang kita pilih).

Saturday, December 13, 2014

@Surabaya. Finally!

Hi, lama tak tulis2, skrg ini aku ada di surabaya, setelah 5 minggu ada di jakarta, bukan waktu yang singkat, tapi bisa dilalui. Banyak hal yang terjadi, mulai dari kerjaan, dari pacar, dari keluarga. Banyak momen yang terlewatkan saat ada di jakarta, saat jauh dari mereka semua. Tapi finally sudah ada di jakarta, sayang sekali sampai sekarang aku belom ketemu pacarku, dia masih kerja, dan aku sambil nunggu trying to write something for myself in the future.

Waktu aku di jakarta, aku sempet beli beberapa barang buat pacarku, salah 1 e rok, terus ada 1 lagi yang spesial, aku beli bed cover buat dia, soalnya dia beli ranjang baru waktu aku ke jakarta. Bed cover nya lucu, gambar doraemon gede, I hope she like it. I missed her very much. Aku harap pertemuan pertama kita setelah 5 minggu ga ketemu bakal lancar.

Yah, soalnya beberapa saat yang lalu kita sempet bertengkar. Karena responku, aku memang ga bisa express myself by speak. Dari dulu, aku selalu express rasa sayangku ke pacarku dari act yg aku lakukan. Waktu dia butuh apa, aku siapkan, semua. Tapi waktu aku di jakarta, aku ga bisa act macem2. Aku ga bisa express how I love her. Even now, her status on bbm is "when love fades, commitment still remain". Aku ga tau love nya siapa yg fade, tapi sakit ati sih, pol, soal e aku di jakarta jaga hati, tetep sayang dia, tapi dia mgkn pikir aku udah ga sayang sama dia, karena respon bicaraku.

Ya kuakui kalo aku irit bicara. I wanna change that. I don't like to be like this. Karena hal ini jg menjadi penghambatku untuk mendapatkan rejeki juga. Ga tau deh mo nulis apa lagi.

Tuesday, December 2, 2014

So Many Things I Want To Share But There Is No Time(?) To Write

Hi, I have so many story that I want to share to my future me. But right now I don't have much time to do that. I don't know, I just can't, maybe lack of discipline for myself. Or maybe I make the draft on my sticky notes and then I didn't continue to finish that draft.

Okay, I write this post is just to make myself clear that today, 2 Dec 2014, I have make up my mind that I will became "Ready-man". Someone that will always ready for any situation, ready for anything, prepare for everything. It's not easy, because I was raised on family that didn't have any "plan". I mean, yes we have plan, but it like we didn't have any plan. When I grow up, I just think about holiday. Where should we going when we holiday, everytime I ask my parent, they said no idea, but everytime the holiday time has come, they are saying that we gonna go to somewhere. That make me become so passive, and I cannot see if my parent have many anticipation about many things too. My eyes has ben blinded so long, but I grateful that I realize this now.

Saturday, November 22, 2014

Married #5 - Vendor Restaurant #1

Hi, beberapa saat yg lalu aku sempet posting tentang vendor restoran yang bikin kami dag dig dug duer. Soalnya harga ga keluar2 dan kita juga was2 kalo harga naek jauh lebih besar dari perkiraan. Dalam waktu penantian ini, tiba2 mamanya pacar ane bilang ke kita kalau temennya dia, punya anak, dan anaknya itu jadi marketingnya resto yg kita mau. Dan ternyata lagi, si marketing resto yang kita mau itu tau adeknya pacar ane. Nah lalu kita mengambil keputusan untuk menelpon langsung ke orang yang bersangkutan tersebut. Dan ternyata, sama saja, dia bilang kalo harga keluar nanti bulan desember.

Kecewa juga sih, tapi kami tau kalau pasti nanti ada sesuatu yang menanti kami.

Married #4 - Menentukan Salon

Halo gan, setelah kita sepakat untuk menggunakan resto, kita fokus ke vendor lain yang ga kalah vital dengan resto, yaitu salon untuk pengantin. Ya pasti vital soalnya kan yang pengantinnya diliat semua orang dan kalo jelek ya bisa bikin nyesel seumur hidup, kan cuman sehari tok nikahnya. Kita ngomong2 lagi sama EO tentang masalah salon, dan EO ngasi 3 alternatif. Karena pacarku pernah bantuin sodaranya yg nikah, jadi dia tau beberapa salon dan salah satu salon yang direkomendasikan oleh EO adalah salon yang dipakai kakaknya pacarku, dan pelayanannya kurang memuaskan karena sangat ramai. Kadang kalo mau ketemu ngomongin tentang salon, harus antri 3-4 jam baru bisa ketemu, itupun hari biasa.

Jadi kami punya 2 alternatif, yang 1, salonnya bagus banget, dan seperti resto kami, kami tidak memasukkan salon ini di listing pernikahan kami karena kami tau kalau harga untuk salon tersebut sangat mahal. Dan 1nya kurang terkenal (bagi kami, apapun yang tidak kami tau adalah tidak terkenal hahahaha), jadi kami lebih fokus ke salon yang mahal (EO setuju dengan budget kami yang terbatas). Lalu kami janjian untuk menuju ke lokasi salon yang mahal itu untuk lihat2, maunya sih ngomong2 tentang harga dan lain sebagainya. Dan hari dimana kami harus pergi ke salon pun tiba, kami dan EO janjian ketemu di dekat salon, lalu kami masuk bersama2. Setelah masuk, kami sangat kaget kalau pacarku disuruh nyoba2 baju.

Setelah coba2 ganti baju, waktunya nego harga dan si EO ngomong2 sama yang punya salon utk nego2, supaya dengan harga yang terbatas itu, bisa dapat banyak fitur, seperti make up pengapit bisa diganti dengan make up saudara, kosasi, retouch bisa di hotel dan lain sebagainya. Setelah si EO ngomong2 sama yang punya salon, si EO datang ke kita dan ngomong kalo yang punya susah buat dinego, padahal sudah sering EO ndatengin konsumen. Terus katanya soalnya ini yang punya salon lagi mbangun rumah di samping salon (salonnya ini ada di tempat elite gan dan salonnya tempatnya besar, mbangun 2 kavling samping kavling yang sekarang)

Oke, setelah kecewa karena tidak bisa dinego, lalu kita mencoba untuk pergi ke alternatif yang 1nya, lokasinya lumayan jauh karena dari barat kita menuju ke tengah-utara. Setelah menuju ke lokasi alternatif, kita tau kalau ini bukan yang kita cari, karena banyak yang tidak cocok ukurannya. Jadi kami menetapkan hati untuk memilih yang di tempat tadi yg bagus banget.

Thursday, October 16, 2014

Aku Terpaksa Menikahinya

Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki:
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orang tuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orang tuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada di mana?” tanya suamiku cepat, khawatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali ku telepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan Maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orang tuaku dan orang tuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak di mataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, air mataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam masjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak peduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Ia pun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku shalat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku shalat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Shalatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah dari mana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu. Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. Maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, kesatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat di manapun kalian berada, ayah akan di sana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orang tuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selama-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia dua puluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Sumber: http://www.womags.com/2014/10/aku-terpaksa-menikahinya-kisah-inspirasi-untuk-para-istri-dan-suami/

Friday, October 3, 2014

Interview Orang Pertama Kali

Halo gan, ane hari ini dikasih kesempatan oleh perusahaan tempat ane kerja untuk interview orang yang lamar di tempat kerja ane. Waktu pertama ane ditawarin, dalam hati ane, ane ga mau gan, tapi ane memaksakan hati ane, karena ane jenuh sama kerjaan yang sekarang, cuman coding, terus emang lg bergumul dengan "kenaikan pangkat" walopun di sini ga ada pangkat. Yang utama sih lebih ke pengembangan diri gan. Biar bisa ketemu orang baru, belajar interview, kalo nanti suatu hari buka usaha dan perlu nyari anak buah, ada pengalaman.

Ini barusan selesai interview gan, deg2an, ngomong agak ga bener, tapi gpp la, pertama kali heheheh. Sebenernya ane lupa gan dulu waktu di interview gmn, jd kemaren tu latiannya sama pacar ane (pacar ane jabatan manager, sering interview orang). Yah, waktu latian tu parah banget gan, kan dasarnya ane introvert dan ansos (anti sosial), jadi kaku banget, ya diajarin gimana harusnya berperilaku sebagai interviewer. Apa saja yang harus ditanyakan.

Ya, nanti bentar lagi ada interview lagi, semoga interview kedua lebih lancar dari yang pertama. Amin!

Married #3 - Menentukan Resto

Hi, after we choose our EO (Event Organizer) for our wedding, we go hunting restraurant to celebrate our one day in whole life. Sebenernya sih kita sudah ada pandangan mau ada di resto mana, seperti cerita Married #2 - Menentukan Vendor, kita sebenernya sudah ada data resto dan kita sudah ada pandangan mau dimana. Karena EO nya menawarkan bantuan bakal press harga seminimal mungkin, jadi ya kita berangkatlah bersama dengan EO kita ke resto yang kita mau.

Waktu ke resto yang kita mau itu, ngomong2, sebenernya kita dikasi tau sama EO kalo di resto itu sebenernya kurang "greget" kalo dibuat pesta pernikahan. "Bakal terlihat biasa saja" katanya, dan tempat parkirnya relatif sempit untuk resto 4 lantai. Kami juga mikir loh gimana nanti jadinya kalau di tanggal 8 agustus, itu kan tanggal bagus, kalau semua lantai di-book, terus para tamu parkirnya gimana. Dan kita sempet tanya2 kalau ada parkir VIP ga, untuk brp mobil jg, ternyata parkir VIP cuman 2 (orang tua mempelai) + 1 (mobil mempelai) dan kami kecewa.

Sambil ngomong2, sambil kita dikasi daftar tempat makan yang oke dari pihak EO, dan kami memang milih untuk tempat makan yang ada di tengah kota aja, biar ga terlalu jauh dari tiap lokasi, maksudnya dari timur ke tengah kan ga jauh, dari selatan ke tengah kan juga ga jauh. Terus dapet 1 resto, lokasi nya di tengah kota, ya kurang lebih deket sama resto pertama, tapi kalo resto yang ini, emang ga kami filter karena sudah keliatan kalo pasti mahal. Waktu dikasi tau ya agak galau juga soalnya mahal, terus kami kasi dah EO buat nyari harga dulu.

Setelah seminggu, kami diajak buat ke tempat yang di refer EO. Aku pernah si dateng ke tempat itu dan aku suka, tapi mahalnya itu boo, jadi ga dimasukin ke daftar kami. Singkat cerita, kami sudah ada di lokasi dan kami di briefing (dikasi tau, kalo mempelai masuk lewat mana, daftar tamu di mana, panggung kayak apa, kurangnya apa, dan lain2) dan dikasi daftar harga. Terus kami kaget kalo harganya resto ini masi dalam budget kami, wow! Tapi ada kabar buruk gan, si resto ga mau iket harga sampai tahun depan (waktu kami cari resto ini kan masih juli, jadi 1 tahun lebih 1 bulan dari tanggal nikah), mereka mau ngiket sampe bulan maret, jadi kira2 9 bulan kedepan la mereka maunya.

Kita dah pada bingung, gmn ini, kasih DP dulu ato ga, kalo dikasi DP dulu, mereka jadi seenaknya aja ato ga ngasih harga. Tapi kalo ga dikasi DP, nanti diambil orang laen gimana. Banyak la yang ada di pikiran kami waktu itu (dan sampe skrg, belum ada kepastian harga). Terus setelah banyak diskusi sama adiknya pasangan sama EO juga, akhirnya ga di DP dulu supaya mereka ga seenaknya sendiri buat pilih harga.

Married #2 - Menentukan Vendor

Halo gan, jadi setelah dapat tanggal nikah, kita kan langsung bingung nyari vendor. Kita sempet pergi ke pameran2, liat2 pameran, ngambilin brosur, ngomong2 ama vendor, bikin excel untuk "mempermudah". Jadi excelnya tu aku bikin kayak pivot, jadi row header di kiri, itu berisi nama2 vendor, terus column atas, itu berisi ttg kebutuhan pernikahan. Contohnya yg column atas itu kyk vendor salon, kebutuhannya ada kyk make up pengantin, make up orang tua, baju orang tua, make up pengapit, aksesoris. Jadi jika untuk vendor A memiliki fitur make up pengantin, make up orang tua, maka untuk baris A, dengan make up pengantin dikasi tanda "OK". Gambarnya seperti ini gan:

Dengan excel itu sebenarnya kita kumpulkan data2 yang ada sampai kita bisa me-match-kan vendor2 dan bisa menjadi informasi yang berguna daripada kita secara manual match lewat ingatan2 kita. Misal kaya di salon A, dapat baju pengantin, make up pengantin, baju orang tua, make up orang tua. Sedangkan di salon B, dapat semua di salon A dengan tambahan kosasi dapat harga lebih mahal 500rb. Akan tetapi dengan EO Z, kita sudah dapat kosasi, jadi ini bisa menjadi informasi berharga sehingga tidak ada double feature ataupun ada yang miss.

Ya setelah kita isi data di excel tersebut, sambil kita tanya2 sama adiknya pasangan ane, kebetulan adiknya pasangan ane itu ada pengalaman di bidang EO, sering jadi EO, jadi jg ada kenalan2 dan isa dijadikan tempat "curhat". Waktu terus berlalu dan ada pameran wedding lagi di Galaxy Mall, EO tempat adiknya pasangan ane buka booth dan kami disuruh untuk ngomong2, tanya2. Maka jadilah kami pergi ke Galaxy Mall untuk liat pameran (parkir kendaraan ga di tempatnya Galaxy Mall, tapi di rumahnya saudaranya pasangan ane, dia punya saudara yang tinggal di daerah sana). Waktu liat, kami jg di prospek, dan kami ga bisa menahan kuasa, kami memilih untuk mengambil paketan komplit langsung deh.

Dengan pakai paketan, kami hitung harganya kira2 sama ama yang sudah kami hitung, sekitar 80jt an (jaman kami sekarang di Surabaya nikah 80jt tu masih agak murah). Ya dengan harga yang sama, semua kebutuhan kami sudah terpenuhi, ya kami langsung OK aja. Terus pada malem itu kami langsung DP pertama 1.5jt. Nah, setelah DP, kita kan dapet undian, ada hadiahnya. Tapi karena EO ini kenal sama adiknya pacar saya, jadi kami langsung dikasi hadiah "yg levelnya agak tinggi" bantal tanpa milih. Sebenernya kalo kita undian langsung itu paling cuman dapet notes, ato apalah, murah2, tapi ni dapet bantal. Lumayan la pikirku.

Terus setelah pulang, kan ambil kendaraan di rumah sodaranya pacar, sekalian ninggalin bantal di situ, karena kita kadang2 juga nginep di situ (emaknya pacar ada di situ, jadi nemeni). Setelah pulang, kita bisa tidur agak tenang

Thursday, October 2, 2014

Married #1 - Tanggal Nikah

Halo gan, long time no see. I have a happy story to tell you. I am gonna married next year! As you know di beberapa postinganku sebelumnya aku sempat mention kalo aku udah ada pacar, dan kami setuju untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi lagi, yaitu jenjang pernikahan, dan membangun keluarga kami sendiri. I'm pretty sure I will spend all my time with her.

Tapi gan, sebenernya tu kita sudah ngomongin tentang pernikahan ini sudah lumayan lama sih gan. Kira2 maret 2014, skrg oktober 2014. Yah, emang sudah jarang ngeblog lg, dan ini mao mulai dokumentasi lg ttg apa yg terjadi dalam hidupku lg, biar besok kalo sudah tua isa liat2 lg ama senyum2 sendiri ahahahahah.

Oke, jadi ini mau share ttg persiapan utk married selama maret beberapa bulan yg lalu sampe oktober skrg ini. Karena panjang, jadi mgkn bakal dibagi jadi beberapa post, tp kalo bisa tetep 1 post aja deh.

Pertama, bulan maret aku sama pasangan sudah ngomong2 ttg rencana kedepan, mau gimana, mau kapan marriednya. Omongan tentang mau lanjut ato ga sudah diomongi sebelum2nya. Jadi kita sama2 mikir mau married 2015, terus akhirnya aku ngomong sama ortu sendiri, si pasangan ngomong sama ortu nya dia. Karena masih taun depan, jadi santai2 aja mereka. Kita sih ga ada persiapan buat nyari tanggal dan sebagainya, soalnya ortu ku bilang kalo bakal di cariin tanggal sama kenalan dari papa. Ya udah, kita tunggu hasil dari papa aja.

Beberapa bulan berlalu, dan akhirnya pada bulan juni, ga ada kabar tanggal untuk married dari papa mama, jadi kita berinisiatif untuk mencari sendiri. Kebetulan sepupunya pasanganku menikah dan dapet orang yg papanya bisa nyari tanggal untuk married, jadi kita minta tolong mereka. Tapi karena masih repot after marriage, jadi permintaan tolong kita masih belum bisa dikabulkan.

Terus setelah beberapa minggu, kita dapet tanggalnya gan. Dan tanggalnya bener2 bagus, tanggal yg aku suka dari dulu. Angka 8, kita dapet tanggal 8 bulan 8 taun 2014, hari sabtu. Ga nyangka banget kan, dan karena dapet tanggal bagus, kita langsung bingung untuk mencari vendor2 untuk pernikahan kita, karena pasti banyak orang yg bakal married tanggal itu.

Wednesday, August 27, 2014

Git

Hi, I just got info from my friend that he need a partner to do his software development and I approved that. The problem is that he want to use git for sharing file. I think it's okay as long as my brain can contains it.

And another consideration is I can get a nice knowledge because as long as I work, I am just use 1 sharing method. I just know subversion. As I got info from my friend that he maybe will use git for our sharing file, I am browse for git ASAP and I can know the basic of git

I learn from the git official website itself. I just done for chapter 1. I want to continue my learning but I am too sleepy now. Hope tomorrow i can done it

Saturday, August 23, 2014

Trying To Expand My Knowledge

Hi, long time no see, I have many story to share. But first, I want to share about something that happen some time ago, not so long. At one time, I read article about money management, here is the http://startupbisnis.com/belajar-mengelola-keuangan-li-ka-shing-mengajarkan-anda-bagaimana-membeli-mobil-dan-rumah-dalam-5-tahun/. It says that we need to divide our spending into 5 post that have itself percentage. Example, first post is for our living expense, it says that for living expense, we need to allocate 30% from our income. And then second, for making friend, we need to allocate 20%, learn/education is 15%, holiday for 10% and the last for investment, we need to allocate 25% from our income.

When I read that article, I realize that I never do 2 of 5 point above for spending. Yes, I have my money for living expense. Yes, I have my money for holiday. And yes, I have my money for investment. But I didn't have expense for learn/education and making friend. And then I planned to buy a book to expand my knowledge. But the think come in mind that my girlfriend have many book. She love reading and she have a dream to have library in our future home. When I come to her house, I choose her collection, and she give me one book, and I think I need that knowledge that inside that book. It's name is "The Art of Influence".

I just read it for 22 pages and it very not fun since I don't like to read a book. But FYI, when I was young, much younger, which 8-15 years old, I am like reading. I can read "Harry Potter" by J.K. Rowling all day for fun. I can read "Da Vinci Code" by Dan Brown for my knowledge. But after that, while I have a computer, I switch my hobby into playing computer (that's not a good hobby). But I think I can do it, I can become a younger me, love reading to expand my knowledge.

Friday, August 15, 2014

Thursday, August 14, 2014

Addition of Job

Hi, yesterday I got something on my workplace, i got my Jobs done in time and then I've been assigned to another job that's not my job actually. My office-mate dad just pass away last week. So, he cannot work properly. Actually I feel pretty happy because they already believe me, believe my skill. That's not something that we can achieve for free. We need much of struggle, while other watching movie, we should overtime to increase our skills and now it paid off

Friday, July 4, 2014

Great Self-Made Movie

Hi, I've been surfing on facebook and I found this movie this movie is such a great movie, because he combine his real and animation from mortal combat game. Here is the link: https://www.facebook.com/photo.php?v=10152629876809415&set=vb.12843884414&type=2&theater

I hope you can see it too

Friday, June 20, 2014

"Through It All"

Hi, this morning just want to sing 1 song that I loved so bad, but I cannot remember it since I didn't play it on my player. I was trying so hard to remember it but it's all useless. And then I give up and I take a bath and VOILA!! I remember it!! The song is "Through It All", by Hillsong, this song is very inspired me, and I love the song itself.


Tuesday, June 10, 2014

Blogger At Android

Hi, I just installed blogger application for my android phone. For the size, this application is not too big for android. Just maybe 30mb only (cmmiw). I test it right now, trying to post something. Maybe it"s would be better if I post something  like how to install blogger at android.

Wednesday, June 4, 2014

What is Black Campaign?

Black campaign is a model or behavior or way of campaign which performed with insult, defame, instigating or spreading the hoax made by candidate or a group of persons or political parties or supporting candidate or any other candidate against opponents.

Example for black campaign:
- "Don't choose Mr. X, because he is the leader of xxx organization"
- "Reject a leader who thirsty of wealth and corrupt"

Black campaign is unfair competition, because it make the image the candidate become down and it would be worse if the candidate is the best person who can lead.

Tuesday, June 3, 2014

Hell Zombie


Beside playing Cookie Run, I have another favorite for android game, the game is Hell Zombie. For many people (I mean LOT of people), this game is boring and people will abandon this game after they cannot clear the stage after trying for maybe 4 times. But, for people like me who like a game where I can kill massive number of enemy is an exception. I play this game almost everyday to see if I can clear that stage, and if I can clear that stage, it happen again, again and again, like an infinite loop. FYI, my last record is on stage 300++.

This is the screenshot of game play for Hell Zombie. As you can see,the graphic is great (for me), sound is great too. The game play is we need to defend the fortress (you can see on the left side) from the attack of the zombie. You can know how much Hit Point your fortress is still available is on left-bottom the screen, there is a blood with number in it and if the number goes 0, then you lost.

We can defend our fortress using the crossbow (you can see the crossbow on the left side, above the archer) and can move the direction up to down and the direction is right only (if the crossbow can target on left side, it would suicide then). You can have an army, with only 4 type of army which have their unique skill. You can use any magic too, the magic available is only 3 type, fire, ice and thunder. Fire type of magic is a magic based on damage and will ignite the enemy after the enemy being hit with the fire. Ice type of magic is a magic that can freeze the enemy, I mean really freeze, the enemy can't move, but the freeze give some armor, would be harder for you to kill the enemy. And the last is thunder type, thunder type of magic is a magic that call down the thunder and make the enemy that hit by this magic become slow down.

Remember! Every time you cast a magic or call out a soldier, you will lose mana point (for magic) and meat point (for soldier). But no worry, because the meat point and mana point can regenerated and the capacity can increased through upgrade.

Thursday, May 22, 2014

Cookie Run



Lately I play a Line game, which named Cookie Run, it is a simple game that the story is a cookie refuse to be cooked and escape from oven. We (player) must help the cookie avoid the obstacle and a valley to reach the freedom. I've been addicted to this game not because the game is too great, not because the game have a good story. Actually I play it much because I targeting the price from Line itself. A pretty good prize for a game, and the prize is all new Yaris, WOW!

But to get the Yaris, we need to compete score with others around the world (oh my gosh) and the highest score I know is 25 million point (which I just max 2.8 million point and the highest score on my friend list is 7.3 million point). It get my hopes down, but it doesn't mean I stop playing Cookie Run. Because the Cookie Run have the fun in it itself, some of it is Cookie run provide many character cookie with unique skill. And if upgrade your cookie into lv 8, you can have a treasure that represented the skill of the cookie. And yet you can choose many pet (which it's pretty hard to get a pet), around 50 pet, and guess what, every pet has it unique ability and when the pet reach lv 8, it create a new treasure that represented the skill of the pet itself.