Sunday, August 30, 2015

Bu Lily

Halo, kemaren tanggal 30 aku sekeluarga (ga sekeluarga sih, cuman ber4 aja tanpa papaku, karena sakit vertigo) sempat pergi ke bu Lily. Akupun mgkn lupa siapa bu Lily itu, jadi aku jelaskan, bu Lily adalah seorang pendoa yang melayani sebagai konselor dan memiliki karunia untuk mengerti roh, bisa mengerti apa yang Tuhan katakan.

Beberapa saat yang lalu, keluargaku sempat mengalami pertengkaran hebat, lalu aku diberi tahu bahwa bu Lily bisa membantu untuk memberikan konsultasi dan solusi, dan bisa membantu mendoakan dan bisa bernubuat, jadilah kami putuskan untuk pergi ke bu Lily, walaupun banyak cobaan (sebelumnya pernah janjian, tapi banyak halangan dan batal).

Pada saat kami sampai di rumah nya bu Lily, pukul 10.15 pagi, sebenarnya kami dijanjikan pukul 11.00 pagi, tapi kami semua dari luar kota, jadi datangnya jam brp kita langsung ke rumahnya bu Lily saja, pikirku sih lebih baik menunggu daripada harus membuang waktu untuk tidak ketemu. Jadi waktu kita datang, bu Lily sempat shock dan masih belum siap apa2, aku sih ga berharap banyak, cuman mgkn nunggu aja di dalem ruang tamu, gt pikirku, tapi ternyata disuruh masuk dan langsung dilayani.

Untuk awal2, saya aku membuka pembicaraan dengan berkata bahwa saya akan menikah, minta di doakan, lalu kemudian bu Lily menyambar ke mama saya, banyak yang dibicarakan, salah 1 nya, mama saya itu orangnya memendam banyak hal, banyak kekecewaan yang ditelan, entah sama suami, ataupun sama anak2nya, banyak pikiran, banyak ketakutan2 yang ada di pikiran mamaku, takut anaknya ada yang nggak nikah, dan banyak hal.

Lalu bu Lily menyambar kakak pertamaku, kakak pertamaku cewek, emang dibilang keras, tapi yang menyebabkan dirinya menjadi keras adalah mamaku juga, dari SMA sering dikenalkan sama orang, dan waktu kakakku ditanyain, lalu mamaku nyamber bilang kalo emang sering dikenalno, tapi si kakakku ga mau. Tapi disitu karunia bu Lily juga bekerja, dia langsung tau kalao kakakku marah tiap kali mamaku bilang dijodohkan, dikenalkan. Bu Lily sadar dan langsung menegur mamaku, bahwa untuk mendapat pasangan, jangan menjual anak seperti barang dagangan, biarlah anak itu yang memberi harga jual dirinya sendiri. Rasa benci itu juga muncul karena adanya cinta tak sampai pada masa lampau yang masih belum terselesaikan (kasih tak sampai), dan kakakku yang pertama masih mencari2 bayangan dari sosok tersebut. Tetapi sayangnya orang tersebut tidak memiliki perasaan apapun pada kakakku.

Dan untuk kakak ku yang kedua, juga sama, selalu marah jika mendengar kata dijodohkan, dikenalkan sama temennya mama, tapi hatinya kakakku yang kedua ini lebih baik dari yang pertama, soalnya ga ada dendam.

Yang terakhir, untuk aku, aku diberi nubuat bahwa nanti ga perlu kuatir tentang pernikahanku, semua bakal berjalan lancar, cuaca bakal cerah dan semua undangan akan dateng. Aku seneng sekali waktu denger nubuatan seperti itu, tapi ada di dalem hatiku yang malah jadi bingung, kalau yang diundang datang semua, terus tempatnya bakal cukup ato ga ya? Soalnya yang diundang melebihi batas. Takut juga sih, tapi mencoba untuk punya iman, aku yakin rancangan Tuhan bukan rancangan yang buruk.

Terus aku didoakan lagi, bakal punya 2 anak laki dan perempuan. Terus di revisi lg, tambah 1 anak lg (hahahaha). Dibilang juga kalau jangan kuatir tentang keuanganmu, keuanganmu terjamin, sudah disiapkan dari surga, akan datang secara tak terduga, keluargamu bakal bahagia. Dan aku akan kerja sampe 5 taun ke depan terus baru punya usaha. Dan ayat yang diberikan adalah Mazmur 32:8 yang berisi "Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kau tempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu."

Wow, nubuatan yang ga terduga buat aku. Sebenernya sih aku takut sama masa depanku, bagaimana keuanganku, tapi dengan adanya nubuatan ini, aku menjadi tidak takut lagi, ya tetep ada ketakutan2, tapi jadi lebih percaya bahwa semua ketakutan itu bukan apa2 dibanding Tuhan.

Thursday, August 6, 2015

Egois, Enyahlah!

Hari ini aku merasa sedih, ini H-2 hari sebelum hari pernikahan, tapi banyak kekuranganku yang belum tertutupi. Seperti contohnya sekarang ini, dan kemarin2, aku terlalu egois, aku terlalu fokus dengan pekerjaanku pada jam kerja sehingga aku tidak sempat untuk menyentuh urusan pernikahan kami. Dan terkadang aku agak jengkel apabila pada waktu malam hari mesti ngurus2in macam2.

Hari2 ini sih sempat tertemplang, tertohok, karena urusan pernikahan, pekerjaan calonku jadi terbengkalai. Sebenarnya aku pun sangat excited dengan pernikahan kami, tapi entah kenapa aku tidak bisa melihat apa yang dilihat calonku. Pada saat aku merasa sudah cukup oke, calonku bilang belum oke. Mungkin itu yang membedakan status pekerjaan kita. Aku bener2 ga kepengen calonku jadi seperti ini terus, akupun juga kepengen ngurusin semua.

Tiap malem aku doa supaya calonku selalu mendapat kekuatan, pengharapan baru. Tapi mungkin karena kena aku, kekuatannya jadi habis. Sedih emang, tapi that's fact.

Aku terlalu egois sampai aku ga bisa melihat bagaimana calonku berkorban. Berkorban perasaan, pikiran, ego. Aku harus berubah.

Hey km (aku di masa depan), kalo km baca ini, introspeksi diri!
Apa km sudah jadi a better man?
Ato tetep menyusahkan istrimu?

Don't be so selfish!