Ketika saya mendorong mahasiswa untuk bersiap memasuki dunia kerja
dengan membekali diri dengan berbagai kompetensi, selalu ada saja yang
berkomentar,”Ngapain cari kerja? Ciptakan dong lapangan kerja. Kita jadi
pengusaha.”
Kedengarannya gagah, tapi pernyataan itu bolong besar. Ketika saya
katakan “bekerja” tentu saja maksud saya juga meliputi bagian “bekerja
mandiri”, salah satu bentuknya adalah jadi pengusaha. Kenapa harus
dianggap berbeda?
Ini adalah kesalahan persepsi pertama soal berbisnis. Ada beberapa
motivator seperti Bob Sadino atau Purdi Chandra yang terlalu bersemangat
mendorong orang untuk berbisnis, sampai terbangun kesan bahwa berbisnis
itu tidak perlu pintar, tidak perlu kompeten. Salah!
Tidakkah lucu bahwa karyawan perusahaan harus kompeten, sementara pemilik perusahaan tidak perlu kompeten?
Faktanya seorang pengusaha sebenarnya dituntut untuk punya kompetensi
lebih tinggi daripada kompetensi yang dibutuhkan oleh rata-rata
karyawan. Tanpa kompetensi, maka bisnis akan hancur dalam 2 hari.
Kesalahan kedua, jadi pengusaha tidak punya atasan. Artinya ia tidak
akan disuruh-suruh. Ia akan bebas bekerja sesuai kehendaknya. Salah!
Pengusaha itu tugasnya melayani. Melayani siapa? Pelanggan atau customer. Kalau kebutuhan pelanggan tidak terpenuhi, mereka akan berhenti membeli produk. Bisnis akan mati.
Saya selalu ingat cerita seorang pengusaha bandeng presto dari
Semarang. Di awal usahanya, suatu hari jam 10 malam dia baru selesai
memasak bandeng. Baru mau istirahat, cerita dia, datang telepon dari
pelanggan penting, pesanan mendadak. Bagi dia pesanan itu tak mungkin
ditolak. Maka ia bekerja lagi, memasak bandeng sampai jam 4 pagi. Kisah
seperti ini biasa dituturkan oleh pengusaha sukses.
Kesalahan ketiga, pengusaha punya waktu bebas. Karena tidak
disuruh-suruh, pengusaha bisa bebas mengatur waktu sesuka dia. Dia tidak
punya jam kerja. Salah!
Kalau disebut tidak punya jam kerja, sebenarnya banyak pengusaha yang
bekerja tak kenal waktu, nyaris 24 jam. Alih-alih punya banyak waktu
luang, mereka justru selalu sempit dalam soal waktu.
Yang punya waktu luang, terlihat santai, dan dijadikan referensi
adalah pengusaha yang sudah mapan dan sukses. Itu namanya salah sampel.
Kalau sudah sukses dan mencapai level tertentu, karyawan juga bisa punya
waktu luang dan tidak terikat secara ketat pada jam kerja.
Kesalahan keempat, pengusaha selalu (lebih) kaya. Sekaya-kayanya
karyawan, katanya, tetap lebih kaya pemilik perusahaan. Iya, itu kalau
perusahaannya sukses. Kalau gagal, pemiliknya bangkrut total, karyawan
masih tetap kaya. Karena karyawan memang tidak ikut menanggung resiko
bisnis.
Banyak orang menganggap jadi pengusaha itu pasti kaya. Atau,
kesuksesan itu identik dengan kekayaan. Padahal menjadi kaya itu
hanyalah efek samping dari kesuksesan. Tidak semua pengusaha itu kaya,
dan tidak semua orang kaya itu pengusaha.
Kesalahan kelima, pengusaha lebih mulia daripada karyawan. Karena pengusaha memberi kerja bagi karyawan. Salah!
Hubungan kerja bukanlah hubungan atas bawah, melainkan hubungan
sejajar, karena kebutuhan bersama. Pengusaha butuh karyawan, karyawan
membutuhkan kerja. Maka terjadilah akad kerja sama.
Karyawan menyumbangkan tenaganya bagi bisnis pengusaha, dan pengusaha
memberi imbalan. Pengusaha dapat memberhentikan karyawan, karyawan pun
bebas untuk berhenti dari pekerjaannya. Jadi, ini hubungan sejajar.
Kemuliaan tidak terletak pada posisi seseorang melainkan apa yang ia
lakukan dan bagaimana ia melakukannya. Pengusaha menjadi mulia kalau
usahanya mendatangkan manfaat bagi banyak orang.
Karyawan menjadi mulia
bila kerjanya mendatangkan manfaat bagi banyak orang.
Kesalahan keenam, orang selalu bergerak dari domain karyawan ke
domain pengusaha. Karena domain pengusaha itu adalah domain yang lebih
tinggi dari domain karyawan. Salah!
Faktanya tidak sedikit orang yang berhenti jadi pengusaha, lalu
memilih jadi karyawan. Banyak yang menemukan bahwa dia tidak sanggup
jadi pengusaha, dan lebih cocok jadi karyawan. Ada pula karyawan yang
menjadi pengusaha, lalu balik lagi menjadi karyawan. Semua itu terjadi
secara alami, tidak perlu disesali atau dianggap sebagai kesalahan.
Sebenarnya tak ada keberatan saya pada semangat orang-orang yang
ingin jadi pengusaha, atau yang ingin mendorong anak-anak muda agar jadi
pengusaha. Saya hanya ingin meluruskan beberapa salah persepsi yang
bisa berakibat buruk.
Ada yang akibatnya berupa materi, seperti kebangkrutan instan. Ada
juga yang akibatnya lebih ruhiyah sifatnya, seperti kepongahan,
memandang rendah orang-orang yang yang bukan pengusaha.
Selebihnya, silakan pilih jalur yang mau Anda tempuh. Persiapkan diri
untuk itu. Ketahuilah, persiapan untuk jadi pengusaha lebih berat
ketimbang jadi karyawan. Takut? Tidak perlu! Go for it!
No comments:
Post a Comment